
Bagaimana Tata Cara Makmum yang Terlambat Mengikuti Sholat Berjamaah?
Makmum masbuk adalah orang yang terlambat mengikuti sholat berjamaah sehingga ada rakaat yang tertinggal.
Rasulullah ï·º bersabda:
“ Apa yang kalian dapati, sholatlah, dan apa yang terlewat, sempurnakanlah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana tata caranya?
* Segera ikuti imam. Jika imam sedang rukuk, sujud, atau duduk, ikutilah posisi imam dengan tertib.
* Rakaat dihitung jika mendapatkan rukuk bersama imam dengan benar, sebelum imam bangkit dari rukuk.
* Jika imam sudah salam, berdirilah untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal.
* Jangan terburu-buru. Lakukan setiap gerakan dengan tumakninah atau tenang.
Pesan penting: Jangan malu datang terlambat ke masjid. Lebih baik segera mengikuti sholat berjamaah daripada kehilangan kesempatan beribadah bersama.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu menjaga sholat. Aamiin. 🤲
Mari Menjaga Salat Sesuai Tuntunan Rasulullah ï·º
Dalam Islam, ada tiga waktu ketika kTiga Waktu yang Dilarang untuk Salatita dilarang melaksanakan salat sunah mutlak, yaitu:
1\. Saat Matahari Terbit (Syuruk) 🌅 Ketika matahari mulai terbit hingga naik setinggi tombak, sekitar 15–20 menit setelah terbit, kita dilarang melaksanakan salat sunah.
2\. Saat Matahari Tepat di Atas Kepala (Istiwa) ☀️ Ketika matahari berada tepat di tengah langit menjelang waktu Zuhur, hingga matahari mulai condong ke barat.
3\. Saat Matahari Terbenam 🌇 Ketika matahari mulai tenggelam hingga terbenam sempurna, kita dilarang melaksanakan salat sunah.
Rasulullah ï·º bersabda bahwa ada tiga waktu ketika beliau melarang umatnya melaksanakan salat dan menguburkan jenazah: saat matahari terbit hingga meninggi, saat matahari tepat di tengah langit hingga bergeser, dan saat matahari menjelang terbenam hingga terbenam sempurna. (HR. Muslim).
Pelajaran bagi kita: Ibadah bukan sekadar banyaknya amal, tetapi juga ketaatan dalam mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Mari pelajari waktu-waktu salat agar ibadah kita semakin sempurna dan diridai Allah SWT.
Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa beribadah dengan ilmu, ikhlas, dan sesuai sunah Rasulullah ï·º. Aamiin.
Wudhu yang Sempurna, Kunci Sahnya Salat
Bersuci dengan berwudu bukan sekadar membasahi anggota tubuh, tetapi juga melatih kesadaran, ketelitian, dan kesiapan hati untuk menghadap Allah SWT.
Wudu merupakan salah satu syarat sah salat. Jika wudu tidak sah, maka salat yang dikerjakan tanpa wudu yang sah juga tidak sah. Karena itu, kita harus memahami tata cara wudu dengan benar, mulai dari niat, membasuh anggota wudu sesuai ketentuan, hingga memastikan seluruh bagian yang wajib dibasuh telah terkena air.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.” (QS. Al-Ma'idah: 6)
Rasulullah ï·º juga bersabda bahwa Allah tidak menerima salat tanpa bersuci (HR. Muslim).
Mari sempurnakan wudu sebelum menyempurnakan salat. Sebab, menghadap Allah membutuhkan kesucian lahir, ketulusan hati, dan kesungguhan dalam beribadah. Jangan sampai kita rajin salat, tetapi mengabaikan kesempurnaan wudu yang menjadi salah satu syarat sahnya.
Khataman Al-Qur’an Masjid Firdaus: Meraih Berkah, Menjemput Rahmat Allah”
Al-Qur’an Menentang Kerusakan dan Keserakahan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
“Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Pesan ini mengingatkan bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak boleh dijadikan alat untuk menindas, mengeksploitasi, atau merampas kesempatan hidup orang lain. Apabila kebijakan publik memperlebar ketimpangan, melemahkan pendidikan, dan menghambat mobilitas sosial, masyarakat berhak mengkritisinya secara terbuka, damai, dan berdasarkan bukti.
Mencerdaskan rakyat bukan ancaman bagi negara. Sebaliknya, rakyat yang berilmu akan lebih mampu mengenali ketidakadilan, mengawasi kekuasaan, serta menentukan masa depannya secara mandiri.
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Darsi atas sedekah snack untuk kegiatan Ngaji Bareng tadi malam. Semoga setiap kebaikan menjadi amal jariyah yang mendatangkan keberkahan dan rida Allah SWT. 🤲
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Apa saja harta yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)
Rasulullah ï·º juga bersabda:
“Lindungilah diri kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan (sedekah) separuh kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🌸 Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sepotong snack yang disedekahkan dengan ikhlas dapat menjadi sebab kebahagiaan, mempererat persaudaraan, dan mengalirkan pahala di sisi Allah.
Baarakallaahu fiik, Bu Darsi. Jazaakillaahu khairan katsiiro. Semoga Allah menerima amal ibadah panjenengan, mengabulkan segala hajat yang baik, melapangkan rezeki, serta memberikan kesehatan dan keberkahan hidup.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. 🤲🌿
Allah Tidak Pernah Salah Waktu
Terkadang kita merasa doa belum dikabulkan, rezeki belum datang, atau harapan yang kita tunggu seakan tertunda. Namun, tertundanya pemberian Allah bukan berarti Allah menolak doa kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, pada waktu yang paling tepat.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Rasulullah ï·º juga mengajarkan bahwa doa seorang mukmin tidak sia-sia. Doanya bisa dikabulkan, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau Allah palingkan darinya suatu keburukan.
Maka, jangan kecewa ketika Allah menunda. Jangan berburuk sangka ketika Allah menahan. Tetaplah berdoa, bersabar, dan percaya kepada ketetapan-Nya.
Sebab kita hanya melihat apa yang kita inginkan, sedangkan Allah melihat apa yang benar-benar kita butuhkan.
Percayalah, jika Allah menunda, ada hikmah. Jika Allah menahan, ada perlindungan. Dan jika Allah memberi, pasti pada waktu yang terbaik. 🤲