Qana'ah: Kaya yang Sesungguhnya Ada di Hati
Qana'ah adalah sikap merasa cukup dengan rezeki yang Allah karuniakan, tanpa meninggalkan ikhtiar untuk meraih yang halal. Orang yang qana'ah tidak iri terhadap nikmat orang lain, tetapi senantiasa bersyukur dan percaya bahwa Allah telah membagi rezeki dengan penuh keadilan dan hikmah.
Allah SWT berfirman:
"Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan bersyukurlah kepada Allah jika benar hanya kepada-Nya kamu menyembah." (QS. An-Nahl: 114)
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Rasulullah ï·º bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah ï·º bersabda:
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya qana'ah terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim)
Qana'ah menjadikan hati tenang, menjauhkan diri dari sifat tamak, serta menumbuhkan rasa syukur. Dengan hati yang qana'ah, seseorang akan lebih mudah menikmati hidup, memperbanyak ibadah, dan menggunakan rezekinya untuk kebaikan.
Semoga Allah SWT menghiasi hati kita dengan sifat qana'ah, menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur, dan memberikan keberkahan pada setiap rezeki yang dianugerahkan. Aamiin.
"Allah sudah lupa kepada seseorang", karena Allah tidak pernah lupa.
Allah SWT berfirman:
"Tuhanmu tidaklah lupa."
(QS. Maryam: 64)
Dalam kehidupan, ada orang yang hidupnya tampak tenang dan ada yang dipenuhi berbagai ujian. Keduanya bukan ukuran apakah Allah mencintai atau membenci seseorang. Kenikmatan bisa menjadi ujian, sebagaimana kesulitan juga merupakan ujian.
Allah berfirman:
"Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 155)
Rasulullah ï·º bersabda:
"Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberinya ujian."
(HR. Bukhari)
Karena itu, ketika mendapat ujian, jangan berputus asa. Bisa jadi Allah sedang membersihkan dosa, mengangkat derajat, dan menguatkan iman kita. Sebaliknya, ketika diberi kelapangan hidup, jangan lalai, tetapi perbanyak syukur dan ketaatan.
Mari jadikan setiap keadaan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Dalam nikmat kita bersyukur, dalam ujian kita bersabar. Itulah sikap seorang mukmin yang akan selalu memperoleh kebaikan dengan izin Allah.
PROGRAM EKONOMI KREATIF MASJID FIRDAUS MADIUN
"Dari Jamaah, Oleh Jamaah, untuk Memakmurkan Masjid dan Mensejahterakan Umat"
Latar Belakang
Masjid selama ini banyak bergantung pada infak dan donasi jamaah untuk membiayai kegiatan dakwah, operasional, dan sosial. Agar masjid semakin mandiri, diperlukan sebuah usaha yang halal, amanah, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Program Ekonomi Kreatif, Masjid Firdaus Madiun diharapkan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan tanpa hanya mengandalkan donasi.
Bentuk Usaha
Program usaha yang dikelola oleh pengurus masjid antara lain:
- Penjualan Air Mineral Amanah.
- Depo LPG 3 kg (sesuai ketentuan yang berlaku).
- Penjualan token listrik.
- Penjualan pulsa telepon dan paket data.
- Penyediaan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari jamaah.
Tujuan
- Mewujudkan kemandirian ekonomi Masjid Firdaus Madiun.
- Mengurangi ketergantungan terhadap donasi untuk operasional masjid.
- Memberikan kemudahan bagi jamaah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
- Menggerakkan budaya belanja sambil bersedekah, karena setiap transaksi turut mendukung kegiatan masjid.
- Membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
- Memakmurkan masjid melalui kegiatan ekonomi yang halal, amanah, dan bermanfaat.
Pengelolaan Keuntungan
Keuntungan usaha dibagi secara transparan:
- 40%/50 %masuk ke Kas Masjid untuk mendukung kegiatan ibadah, pendidikan, dan sosial.
- 60%✓50% diberikan kepada pengelola usaha sebagai biaya operasional dan insentif pengelolaan.
Penutup
Program Ekonomi Kreatif Masjid Firdaus Madiun merupakan ikhtiar untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Dengan dukungan jamaah dan pengelolaan yang profesional, insya Allah masjid akan semakin makmur, masyarakat sekitar semakin sejahtera, dan keberkahan akan dirasakan bersama.
Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Amal yang tampak besar di hadapan manusia belum tentu bernilai di sisi Allah apabila dikerjakan untuk mencari pujian. Sebaliknya, amal yang sederhana namun dilakukan dengan hati yang ikhlas dapat menjadi sangat agung di sisi-Nya.
Allah SWT berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."
(QS. Al-Bayyinah: 5).
Riya adalah melakukan ibadah agar dilihat, dipuji, atau dihormati manusia. Karena itu Allah memberikan peringatan keras:
"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya."
(QS. Al-Ma'un: 4–6).
Rasulullah ï·º juga bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya." (HR. Ahmad).
Ikhlas menjadikan hati tenang karena tujuan kita hanya mengharap ridha Allah. Sebaliknya, riya membuat hati selalu menunggu penilaian manusia. Orang yang ikhlas tidak sibuk menghitung pujian, tetapi sibuk memperbaiki niat.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat sombong dan riya, serta menerima setiap amal yang kita lakukan semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Āmīn.
"Sahabat yang baik adalah sahabat yang berani menunjukkan kesalahan kita, bukan yang membiarkan kita terus berada dalam kekeliruan."
Islam mengajarkan bahwa nasihat adalah bagian dari agama. Rasulullah ï·º bersabda:
"Agama adalah nasihat."
(HR. Muslim)
Sahabat yang tulus akan menasihati dengan penuh kasih sayang, menjaga kehormatan saudaranya, dan menginginkan kebaikan baginya. Sebaliknya, pujian yang berlebihan dapat menumbuhkan kesombongan dan membuat seseorang lalai melihat kekurangannya. Karena itu, Rasulullah ï·º mengingatkan agar tidak berlebihan dalam memuji seseorang.
Allah SWT juga berfirman:
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Adz-Dzariyat: 55)
Selain itu, Allah memerintahkan agar kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran:
"Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran."
(QS. Al-'Ashr: 1–3)
Marilah kita menjadi sahabat yang ikhlas menerima nasihat dan juga berani menyampaikan kebenaran dengan adab yang baik. Sebab, sahabat sejati bukanlah yang selalu memuji, melainkan yang membantu kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Setiap Nikmat Akan Ditanya: Sudahkah Kita Peduli kepada Sesama?
# Surat At-Takatsur: Muhasabah Harta dan Kepedulian kepada Sesama
Allah SWT berfirman:
"Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan."
(QS. At-Takatsur: 8)
Surat At-Takatsur mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh persaingan mengumpulkan harta dan kenikmatan dunia. Semua nikmat yang Allah berikan kelak akan dimintai pertanggungjawaban: untuk apa harta itu digunakan, kepada siapa dibelanjakan, dan apakah menjadi jalan kebaikan atau justru mendukung kezaliman.
Dalam konteks kepedulian terhadap saudara-saudara kita di Palestina, ayat ini menjadi pengingat untuk menggunakan nikmat yang Allah titipkan dengan penuh tanggung jawab. Doa, infak, sedekah, dan memilih cara berbelanja yang mencerminkan nilai-nilai keadilan merupakan bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, tanpa mudah menghakimi pilihan orang lain.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga setiap nikmat yang Allah anugerahkan menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh, menolong sesama, dan meraih ridha-Nya. Karena pada akhirnya, setiap kenikmatan akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT. Aamiin.
Allah SWT mengingatkan:
"Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-An'am: 32).
Ayat ini bukan berarti Islam melarang kita bekerja, belajar, atau mencari rezeki. Namun, Allah mengajarkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama yang melalaikan kita dari mengingat-Nya. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari).
Seorang musafir tentu tidak akan terlalu sibuk menghiasi tempat persinggahannya. Ia akan lebih fokus mempersiapkan bekal menuju tujuan akhir. Demikian pula seorang mukmin, ia menggunakan nikmat dunia untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, bersedekah, membantu sesama, dan menjaga akhlak.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang bijak memanfaatkan kehidupan dunia sebagai ladang amal, sehingga kelak memperoleh kebahagiaan abadi di surga-Nya. Aamiin.
"Dunia ini hanya setetes air. Kalau kau tak dapat, jangan sedih karena yang tak kau dapat hanya setetes. Dan kalau kau dapat jangan bangga karena yang kau dapat hanya setetes."
Ungkapan ini mengingatkan kita agar tidak terlalu terpaut pada kenikmatan dunia. Allah SWT berfirman:
"Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20).
Rasulullah ï·º juga bersabda:
"Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah berapa banyak air yang menempel di jarinya." (HR. Muslim).
Hadis ini menggambarkan bahwa kenikmatan dunia sangat kecil dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang kekal. Karena itu, ketika kehilangan sesuatu di dunia, jangan berlarut dalam kesedihan. Sebaliknya, ketika memperoleh nikmat, jangan sampai hati dipenuhi kesombongan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Marilah kita menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan utama. Kejar keberkahan, perbanyak ibadah, dan persiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang abadi. Sebab, yang benar-benar bernilai bukanlah seberapa banyak yang kita miliki di dunia, melainkan seberapa besar amal saleh yang kita bawa menghadap Allah SWT.
"Cari cinta dengan sujud, mendekatkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan menghadirkan banyak hati yang mencintaimu."
Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba kepada Allah. Dalam sujud, seorang mukmin berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya. Rasulullah ï·º bersabda, "Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa ketika sujud." (HR. Muslim).
Allah juga berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung."
(QS. Al-Hajj: 77)
Ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. Cinta yang lahir karena ketakwaan lebih abadi daripada cinta yang dibangun hanya atas kepentingan dunia. Rasulullah ï·º juga mengabarkan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memerintahkan malaikat untuk mencintainya, lalu Allah menanamkan kecintaan kepadanya di hati manusia (HR. dan ).
Karena itu, jangan sibuk mengejar pengakuan manusia. Perbanyaklah sujud, perbaiki ibadah, dan dekatkan diri kepada Allah. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, Dia akan membukakan pintu-pintu keberkahan serta menghadirkan orang-orang yang mencintai dan menghormatinya karena iman dan akhlaknya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam sujud, dicintai oleh-Nya, serta dicintai oleh orang-orang yang saleh. Aamiin.
Setan Tak Pernah Berhenti, Manusia Jangan Sampai Terlena
Allah SWT menjelaskan bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia. Karena itu, Allah memerintahkan agar manusia selalu waspada dan tidak mengikuti bisikan serta tipu dayanya. "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu. (QS. Fathir: 6)
Salah satu cara setan menjauhkan manusia dari Allah adalah dengan membuat manusia lalai, malas beribadah, dan tenggelam dalam kelalaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang tidur, setan mengikat tengkuknya dengan beberapa ikatan. Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, satu ikatan terlepas. Jika berwudu, ikatan berikutnya terlepas. Dan jika ia salat, seluruh ikatan itu terlepas sehingga ia menjadi bersemangat dan berjiwa baik. Sebaliknya, jika tidak bangun untuk mengingat Allah, ia akan menjadi malas dan lesu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, Allah mensyariatkan salat sebagai sarana utama untuk selalu mengingat-Nya."Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku."(QS. Thaha: 14)
Namun setan tidak pernah menyerah. Bahkan ketika manusia sedang salat, ia berusaha mengganggu kekhusyukan dengan membisikkan berbagai pikiran agar hati tidak fokus kepada Allah. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setan datang saat salat untuk membuat seseorang lupa terhadap apa yang sedang ia kerjakan.
Tugas setan sejak dahulu hingga hari kiamat adalah menjauhkan manusia dari Tuhannya. Sebaliknya, tugas manusia adalah terus mendekat kepada Allah dengan iman, dzikir, membaca Al-Qur'an, salat, dan amal saleh. Semakin sering seorang hamba mengingat Allah, semakin sempit kesempatan setan untuk menguasai hatinya.
Maka, jangan biarkan hidup berlalu dalam kelalaian. Bangunlah dari "tidur" hati, perbanyak mengingat Allah, karena kemenangan sejati adalah ketika hati selalu terhubung dengan-Nya.
Kisah Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup memang terdapat dalam tradisi Islam
-
Nabi Ibrahim Dibakar
- Dalam Islam, Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud.
- Api yang sangat besar disiapkan untuk membakarnya, tetapi Allah SWT memerintahkan api agar menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim (QS Al-Anbiya: 69).
-
Kisah Cicak dalam Hadis
- Ada hadis yang menyebutkan bahwa saat Nabi Ibrahim dibakar, seekor cicak ikut meniup api agar semakin besar.
- Dalam beberapa riwayat hadis sahih, Nabi Muhammad SAW menganjurkan membunuh cicak karena perbuatannya tersebut (HR Muslim, Abu Dawud, dan lainnya).
Ada beberapa hadis yang membahas tentang membunuh cicak, di antaranya:
1. Keutamaan Membunuh Cicak
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang membunuh cicak dalam sekali pukulan, maka baginya seratus kebaikan. Jika membunuhnya dalam pukulan kedua, maka baginya kurang dari itu. Jika membunuhnya dalam pukulan ketiga, maka baginya kurang dari itu."
(HR. Muslim No. 2240)
2. Cicak Ditiup oleh Iblis Saat Nabi Ibrahim Dibakar
Dari "Sa’id bin Musayyib", dari Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan menyebutnya sebagai hewan kecil fasik. Beliau juga mengabarkan bahwa cicak meniup api yang membakar Nabi Ibrahim."
(HR. Bukhari No. 3359, Muslim No. 2237)
Hadis-hadis ini menjadi dasar dalam Islam mengenai perintah membunuh cicak, karena cicak dianggap sebagai hewan yang berperan dalam memperbesar api saat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dibakar oleh Raja Namrud.






























