Dari Masjid
Ke Masjid

  • Home
  • Artikel
    • Tausiyah Subuh
    • Pengajian Ahad Pagi
    • Tolabul Ilmi
    • Khutbah Jumat
  • Tentang
    • Kami
    • Contact

Tausiyah Subuh

Tausiyah Subuh

Pengajian Ahad Pagi

Pengajian Pagi

Tolabul Ilmi

Tolabul Ilmi

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat

 


Islam adalah agama yang penuh rahmat dan memberikan begitu banyak peluang kepada setiap hamba untuk mengumpulkan pahala. Salah satu kemudahan itu adalah pahala membaca Al-Qur'an. Bahkan, pahala tidak dihitung per ayat atau per surat, tetapi per huruf yang dibaca.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan 'Alif Lām Mīm' itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf." (HR. At-Tirmidzi)

Karena itu, seseorang yang baru belajar membaca Al-Qur'an, meskipun masih mengeja alif, ba, ta, tsa, tetap memperoleh pahala atas setiap huruf yang dibacanya. Bahkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata mendapatkan dua pahala: pahala membaca dan pahala atas kesungguhannya dalam belajar (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi." (QS. Fathir: 29)

Jangan pernah merasa malu atau terlambat belajar Al-Qur'an. Setiap huruf yang keluar dari lisan adalah cahaya, setiap usaha adalah ibadah, dan setiap bacaan menjadi tabungan pahala di sisi Allah SWT. Mari luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur'an, karena jalan menuju surga bisa dimulai dari satu huruf yang kita baca dengan ikhlas.

 



Tiga Panggilan Allah SWT yang Tak Boleh Diabaikan

Dalam kehidupan, setiap Muslim akan menghadapi beberapa panggilan dari Allah SWT. Ada panggilan yang memerlukan kesiapan harta, ada yang membutuhkan kesiapan hati, dan ada pula yang datang tanpa bisa ditunda.

Pertama, panggilan haji. Allah SWT berfirman:

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali 'Imran: 97)

Kemampuan di sini mencakup bekal, keamanan perjalanan, dan kesehatan fisik. Karena itu, haji diwajibkan bagi yang telah mampu.

Kedua, panggilan azan untuk salat. Setiap hari Allah memanggil hamba-Nya melalui azan: "Hayya 'alash shalah, hayya 'alal falah" (Mari menuju salat, mari menuju kemenangan). Namun, tidak sedikit yang merasa berat memenuhi panggilan ini, padahal salat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

Ketiga, panggilan kematian. Inilah panggilan yang tidak memandang kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda. Allah SWT berfirman:

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185)

Ketika ajal tiba, tidak ada seorang pun yang mampu menunda atau mempercepatnya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf: 34.

Semoga kita termasuk hamba yang segera memenuhi panggilan azan, diberi kemampuan memenuhi panggilan haji, dan dipersiapkan dengan amal saleh sebelum datang panggilan terakhir, yaitu kematian. Aamiin.




 


"Kita selalu membersihkan rumah saat hendak mengundang tamu. Maka, lebih utama lagi kita membersihkan hati jika ingin mengundang rahmat, hidayah, dan pertolongan Allah SWT."

Islam mengajarkan bahwa hati adalah pusat keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga berfirman:

"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88–89).

Hati yang bersih dipenuhi dengan iman, keikhlasan, tawakal, dan kasih sayang. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, dengki, sombong, dan kebencian akan menjauhkan seseorang dari ketenangan dan keberkahan.

Marilah kita senantiasa membersihkan hati dengan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bertaubat, serta memaafkan sesama. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita bersih sehingga layak menerima rahmat, hidayah, dan cinta-Nya.

"Hati yang bersih adalah tempat terbaik untuk hadirnya cahaya Allah."









 

 


"Dunia ini hanya setetes air. Kalau kau tak dapat, jangan sedih karena yang tak kau dapat hanya setetes. Dan kalau kau dapat jangan bangga karena yang kau dapat hanya setetes."

Ungkapan ini mengingatkan kita agar tidak terlalu terpaut pada kenikmatan dunia. Allah SWT berfirman:

"Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah berapa banyak air yang menempel di jarinya." (HR. Muslim).

Hadis ini menggambarkan bahwa kenikmatan dunia sangat kecil dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang kekal. Karena itu, ketika kehilangan sesuatu di dunia, jangan berlarut dalam kesedihan. Sebaliknya, ketika memperoleh nikmat, jangan sampai hati dipenuhi kesombongan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Marilah kita menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan utama. Kejar keberkahan, perbanyak ibadah, dan persiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang abadi. Sebab, yang benar-benar bernilai bukanlah seberapa banyak yang kita miliki di dunia, melainkan seberapa besar amal saleh yang kita bawa menghadap Allah SWT.


 




Allah SWT adalah Zat Yang Maha Adil sekaligus Maha Pemurah. Keadilan-Nya tidak hanya tampak dalam keputusan-Nya, tetapi juga dalam cara Dia memberi balasan kepada hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Jika niat itu kemudian diwujudkan, Allah melipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, orang yang berniat berbuat dosa tetapi mengurungkannya karena Allah akan mendapat pahala, dan jika melakukannya hanya dicatat sebagai satu dosa. Ini menunjukkan betapa luas rahmat dan keadilan Allah. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Allah SWT juga berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. : 261).

Karena itu, jangan pernah meremehkan niat baik dan amal sekecil apa pun. Setiap langkah menuju kebaikan akan mendapat balasan yang jauh lebih besar daripada usaha yang kita lakukan. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa ikhlas beramal dan meraih pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.


 

Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Lomba Lukis Gema Muharam Ceria Masjid Firdaus Madiun
  • Gema Muharam Ceria Masjid Firdaus Madiun: Merajut Iman, Mengukir Prestasi
  • Dilempari Batu, Balaslah dengan Buah
  • Misi Setan Hanya Satu: Menjauhkan Manusia dari Allah
  • Yuk Hidupkan Malam Rabu dengan Cahaya Al-Qur'an

Categories

  • Al-Qur'an
  • Artikel
  • cangkrukan
  • General
  • Khutbah Jumat
  • Pengajian Ahad Pagi
  • Preaching
  • Tausiyah Subuh
  • Tolabul Ilmi

Ads



Copyright © Dari Masjid Ke Masjid Designed by OddThemes