"Dunia ini hanya setetes air. Kalau kau tak dapat, jangan sedih karena yang tak kau dapat hanya setetes. Dan kalau kau dapat jangan bangga karena yang kau dapat hanya setetes."
Ungkapan ini mengingatkan kita agar tidak terlalu terpaut pada kenikmatan dunia. Allah SWT berfirman:
"Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah berapa banyak air yang menempel di jarinya." (HR. Muslim).
Hadis ini menggambarkan bahwa kenikmatan dunia sangat kecil dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang kekal. Karena itu, ketika kehilangan sesuatu di dunia, jangan berlarut dalam kesedihan. Sebaliknya, ketika memperoleh nikmat, jangan sampai hati dipenuhi kesombongan. Semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Marilah kita menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan utama. Kejar keberkahan, perbanyak ibadah, dan persiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang abadi. Sebab, yang benar-benar bernilai bukanlah seberapa banyak yang kita miliki di dunia, melainkan seberapa besar amal saleh yang kita bawa menghadap Allah SWT.
Allah SWT adalah Zat Yang Maha Adil sekaligus Maha Pemurah. Keadilan-Nya tidak hanya tampak dalam keputusan-Nya, tetapi juga dalam cara Dia memberi balasan kepada hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Jika niat itu kemudian diwujudkan, Allah melipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, orang yang berniat berbuat dosa tetapi mengurungkannya karena Allah akan mendapat pahala, dan jika melakukannya hanya dicatat sebagai satu dosa. Ini menunjukkan betapa luas rahmat dan keadilan Allah. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Allah SWT juga berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. : 261).
Karena itu, jangan pernah meremehkan niat baik dan amal sekecil apa pun. Setiap langkah menuju kebaikan akan mendapat balasan yang jauh lebih besar daripada usaha yang kita lakukan. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa ikhlas beramal dan meraih pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Islam mengajarkan agar setiap anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah SWT melarang seorang anak berkata kasar, bahkan mengucapkan kata "ah" sekalipun. Allah berfirman:
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23).
Ayat ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun sikap yang menyakiti hati orang tua dilarang dalam Islam. Apalagi menghardik, membentak, atau merendahkan mereka. Sebaliknya, seorang anak diperintahkan untuk berkata lembut, menghormati, mendoakan, dan merawat mereka, terlebih ketika usia mereka telah lanjut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua." (HR. At-Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan jalan meraih keberkahan hidup dan keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, mari menjaga lisan, memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang, serta senantiasa mendoakan mereka. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti dan memperoleh ridha-Nya melalui ridha kedua orang tua. Aamiin.
"Cari cinta dengan sujud, mendekatkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan menghadirkan banyak hati yang mencintaimu."
Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba kepada Allah. Dalam sujud, seorang mukmin berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa ketika sujud." (HR. Muslim).
Allah juga berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung."
(QS. Al-Hajj: 77)
Ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. Cinta yang lahir karena ketakwaan lebih abadi daripada cinta yang dibangun hanya atas kepentingan dunia. Rasulullah ﷺ juga mengabarkan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memerintahkan malaikat untuk mencintainya, lalu Allah menanamkan kecintaan kepadanya di hati manusia (HR. dan ).
Karena itu, jangan sibuk mengejar pengakuan manusia. Perbanyaklah sujud, perbaiki ibadah, dan dekatkan diri kepada Allah. Jika Allah telah mencintai seorang hamba, Dia akan membukakan pintu-pintu keberkahan serta menghadirkan orang-orang yang mencintai dan menghormatinya karena iman dan akhlaknya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam sujud, dicintai oleh-Nya, serta dicintai oleh orang-orang yang saleh. Aamiin.