Kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh dirimu sendiri. Apa yang kamu lakukan hari ini, tentukan bahagia masa depanmu.
Kalimat ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa manusia memiliki tanggung jawab atas pilihan dan amal perbuatannya, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan hidup dimulai dari diri sendiri:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kebahagiaan sejati bukan hanya tentang materi atau pujian manusia, melainkan tentang ketenangan hati yang dekat dengan Allah. Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa kebahagiaan terletak pada sikap hati dan rasa cukup:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Apa yang kita tanam hari ini—niat yang ikhlas, usaha yang halal, kesabaran dalam ujian, dan syukur dalam nikmat—akan menentukan kualitas kebahagiaan kita di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal: berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang lapang.
Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bergantung pada orang lain, melainkan buah dari iman, amal saleh, dan hati yang ridha terhadap takdir Allah.












