Pahala Puasa Bisa Hilang? Waspadai Hal-Hal Ini!
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan penjagaan diri dari segala yang dilarang Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. : 183)
Tujuan utama puasa adalah takwa. Namun, ada perbuatan-perbuatan yang bisa menghilangkan bahkan menghapus pahala puasa, walaupun secara hukum puasanya tetap sah.
1. Berkata Dusta dan Berbuat Bohong
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Artinya, seseorang bisa saja menahan lapar, tetapi jika lisannya masih berdusta, pahala puasanya terancam hilang.
2. Ghibah (Menggunjing) dan Fitnah
Allah berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...”
(QS. : 12)
Ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Betapa besar dosanya. Puasa seharusnya menjaga lisan, bukan justru memperbanyak gunjingan.
3. Marah dan Berkata Kotor
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada yang mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah tameng. Jika tameng itu ditembus oleh emosi, makian, dan amarah, maka pahala pun berkurang.
4. Riyaa’ (Pamer Ibadah)
Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa itu khusus untuk-Nya dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Jika puasa dilakukan untuk dipuji atau dipamerkan, maka nilainya bisa gugur.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ibnu Majah)
Mari kita jaga puasa bukan hanya dari yang membatalkan secara fiqh seperti makan dan minum, tetapi juga dari dosa-dosa yang membatalkan pahala.
Semoga Allah menjaga puasa kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Aamiin.
Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”
(HR. – riwayat dan )
Hadits ini menggambarkan betapa agungnya ibadah puasa di sisi Allah ﷻ. Ada dua momen bahagia yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang berpuasa dengan iman dan penuh keikhlasan.
1. Bahagia Saat Berbuka
Kebahagiaan pertama adalah ketika berbuka. Setelah menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, datanglah waktu berbuka sebagai nikmat yang nyata. Rasa syukur memenuhi hati, karena Allah telah memberi kekuatan untuk menyempurnakan puasa hari itu.
Allah berfirman:
“... dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam ...”
(QS. , Al-Baqarah: 187)
Berbuka bukan sekadar menikmati makanan, tetapi merasakan karunia Allah dan keberhasilan menjalankan perintah-Nya.
2. Bahagia Saat Berjumpa dengan Allah
Kebahagiaan kedua jauh lebih besar dan abadi: saat bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Puasa yang dijalankan dengan ikhlas akan menjadi sebab diampuninya dosa dan diangkatnya derajat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Allah berfirman: Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. dan )
Ini menunjukkan betapa istimewanya puasa. Balasannya langsung dari Allah ﷻ, tanpa batas yang kita ketahui.
Semoga setiap lelah, lapar, dan dahaga yang kita rasakan menjadi jalan menuju dua kebahagiaan tersebut: bahagia di dunia saat berbuka, dan bahagia yang kekal saat berjumpa dengan Allah سبحانه وتعالى. Aamiin. 🤲


















