Dari Masjid
Ke Masjid

  • Home
  • Artikel
    • Tausiyah Subuh
    • Pengajian Ahad Pagi
    • Tolabul Ilmi
    • Khutbah Jumat
  • Tentang
    • Kami
    • Contact

Tausiyah Subuh

Tausiyah Subuh

Pengajian Ahad Pagi

Pengajian Pagi

Tolabul Ilmi

Tolabul Ilmi

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat



Hati manusia ibarat sebuah cangkir. Ia memiliki kapasitas yang terbatas. Ketika cangkir itu dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, maka secara alami ruang untuk kecintaan terhadap dunia akan semakin sempit. Inilah hakikat dari iman yang hidup—mengutamakan Allah di atas segala-galanya.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan bahwa kecintaan kepada dunia seringkali melalaikan manusia dari tujuan sejatinya:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini…”
(QS. Ali Imran: 14)

Namun, Allah juga menegaskan bahwa orang-orang beriman memiliki kecintaan yang jauh lebih besar kepada-Nya:

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)

Rasulullah ๏ทบ juga mengingatkan dalam sebuah hadits bahwa dunia bukanlah tujuan utama seorang mukmin:

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat menetap selamanya. Maka tidak sepantasnya hati kita dipenuhi oleh kecintaan yang berlebihan terhadapnya.

Ketika hati dipenuhi dengan dzikir, ibadah, dan rasa cinta kepada Allah, maka dunia akan berada di tangan, bukan di hati. Kita tetap bekerja, berusaha, dan menikmati kehidupan, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utama.

Sebaliknya, jika hati kosong dari cinta kepada Allah, maka dunia akan mengambil alih seluruh ruang di dalamnya. Akibatnya, manusia mudah gelisah, tamak, dan tidak pernah merasa cukup.

Oleh karena itu, mari kita isi “cangkir hati” kita dengan cinta kepada Allah—melalui shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan amal kebaikan. Dengan begitu, dunia akan menjadi kecil, dan akhirat akan menjadi tujuan yang besar dalam hidup kita.

Karena hati yang penuh dengan Allah, tidak akan sempit oleh dunia.

 


Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa merapikan dan membersihkan rumah ketika hendak menerima tamu. Lantai disapu, perabot ditata, dan suasana dibuat nyaman. Namun, pernahkah kita merenung—bagaimana dengan hati kita ketika ingin “mengundang” Allah hadir dalam kehidupan?

Allah tidak melihat rupa dan harta kita, melainkan hati dan amal kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ๏ทบ: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hati yang bersih menjadi tempat turunnya ketenangan, rahmat, dan hidayah dari Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa pada hari kiamat tidak ada yang bermanfaat kecuali hati yang bersih:
"…kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim)." (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).

Membersihkan hati berarti menjauhi penyakit hati seperti iri, dengki, riya, sombong, dan kebencian. Sebaliknya, kita menghiasinya dengan keikhlasan, sabar, syukur, dan tawakal. Proses ini tidak instan, tetapi harus dilakukan terus-menerus melalui taubat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Rasulullah ๏ทบ juga mengingatkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh—itulah hati (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, jika kita ingin dekat dengan Allah, jangan hanya memperindah lahiriah, tetapi juga perhatikan kebersihan batin. Hati yang bersih adalah “rumah” yang layak untuk ditempati oleh cahaya iman dan kehadiran rahmat-Nya.

✨ Mari kita bersihkan hati, agar Allah berkenan hadir dalam setiap langkah hidup kita.

 





Bulan adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Banyak peristiwa besar dan amalan istimewa terjadi di dalamnya. Berikut yang utama:


๐ŸŒ™ 1. Ibadah Haji

Pada bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia melaksanakan ibadah di .
Puncaknya terjadi pada tanggal 9–13 Dzulhijjah.


๐Ÿ•‹ 2. Wukuf di Arafah

Tanggal 9 Dzulhijjah adalah hari di .
Ini adalah rukun haji yang paling utama. Rasulullah ๏ทบ bersabda bahwa haji itu adalah Arafah.


๐Ÿคฒ 3. Puasa Arafah

Bagi yang tidak berhaji, disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, dikenal sebagai .
Keutamaannya: menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim).


๐Ÿ„ 4. Hari Raya Idul Adha

Tanggal 10 Dzulhijjah adalah .
Umat Islam melaksanakan shalat Id dan memperingati ketaatan Nabi Ibrahim ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู….


๐Ÿ 5. Penyembelihan Hewan Kurban

Dilakukan pada 10–13 Dzulhijjah (hari Tasyrik). Ini disebut , sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial.


๐Ÿ“ฟ 6. Hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah)

Hari-hari ini dikenal sebagai .
Umat Islam dianjurkan banyak berdzikir, makan, dan minum (tidak boleh berpuasa).


⭐ 7. 10 Hari Pertama yang Sangat Mulia

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk waktu terbaik untuk beramal. Dalam hadits, Rasulullah ๏ทบ menyebut tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal dibanding hari-hari ini.


✨ Kesimpulan

Bulan Dzulhijjah adalah bulan penuh ibadah, pengorbanan, dan kedekatan kepada Allah—mulai dari haji, puasa, hingga kurban.


Kalau Anda mau, saya bisa bantu buatkan , , atau .


Keluarga dalam ajaran Islam bukan sekadar ikatan darah, tetapi juga amanah besar dari Allah yang harus dijaga dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga keluarga dari keburukan dan mengarahkannya pada kebaikan. Dalam , Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga adalah tanggung jawab utama setiap individu. Menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membimbing mereka dalam iman, akhlak, dan ibadah.

Dalam hadits, ๏ทบ juga menekankan pentingnya peran keluarga. Beliau bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa dalam lingkup keluarga, setiap anggota memiliki peran. Orang tua sebagai pemimpin bertugas mendidik dan melindungi, sementara anak-anak belajar untuk taat dan berbakti.

Kasih sayang menjadi fondasi utama dalam keluarga. Rasulullah ๏ทบ dikenal sebagai sosok yang lembut dan penuh cinta kepada keluarganya. Hal ini menjadi teladan bahwa hubungan keluarga yang harmonis dibangun dengan cinta, komunikasi yang baik, dan saling menghormati.

Dengan demikian, keluarga memang anugerah terindah dari Allah. Menjaganya berarti merawat keimanan, memperkuat kasih sayang, dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Keluarga yang dijaga dengan nilai-nilai Islam akan menjadi sumber kebahagiaan di dunia sekaligus jalan menuju keselamatan di akhirat.

 


๐Ÿ•‹ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡  ๐Ÿ•‹

๐ŸŒ™ Ayo Berkurban di Masjid Firdaus Madiun ๐Ÿ„๐Ÿ

Mari wujudkan kepedulian dan keikhlasan di Hari Raya Idul Adha 1447 H. Salurkan hewan kurban Anda melalui Masjid Firdaus agar lebih bermanfaat, tepat sasaran, dan penuh keberkahan.

Bersama kita tebarkan kebaikan, berbagi kepada sesama, dan meraih ridha Allah SWT. ๐Ÿคฒ Daftar sementara:

1.B. KASNO 

2.B. RONO

3.B.MARIANI WIDODO

4.B.LILIK

5.B.PURWADI

6.B.ROKIM

7.B.EDY ENY

8.B.SUGENG

9.B.ITA PRI

10.B.MARIATI ROHMAD

11.B.PUJI HERU

12.Bp Samun ( alm )

13.Bu Watini Samun 

14.Bp Endro Samun

15. Bu Wondo

16. adik  Ahmad zulhatta Alvarendra ( Ms Amir )

17.  Bp.EKO perum royal orchid (utk ibu kandung sawiyahtiningsih)

18.

19.

20.

21.


Dst


Monggo yang ingin berkurban bisa list disini๐Ÿ™๐Ÿ™

 


Dalam perjalanan hijrah, sering kali kita merasakan perubahan dalam lingkungan pergaulan. Ketika seseorang mulai berusaha menjadi lebih baik, menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, dan mendekat kepada Allah, tidak jarang orang-orang yang dulu dekat perlahan menjauh. Hal ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari proses penyucian diri yang Allah kehendaki.

Allah ๏ทป berfirman dalam Al-Qur’an:
"Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya." (QS. Al-Baqarah: 257)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang memilih jalan kebaikan, Allah akan membimbingnya menuju cahaya, termasuk dengan menjauhkan hal-hal yang dapat menghalangi keimanan—termasuk pergaulan yang tidak membawa kebaikan.

Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
"Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadits ini mengingatkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap keimanan seseorang. Maka ketika Allah menjauhkan kita dari orang-orang yang tidak mendukung kebaikan, itu adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita tetap istiqomah di jalan yang benar.

Hijrah bukan hanya tentang perubahan penampilan, tetapi perubahan hati, niat, dan arah hidup. Dalam prosesnya, kita mungkin merasa sendiri, namun sejatinya Allah sedang menyiapkan lingkungan yang lebih baik, teman-teman yang shalih, dan kehidupan yang lebih berkah.

Tetaplah teguh dan sabar. Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Istiqomah memang tidak mudah, tetapi setiap langkah kecil menuju kebaikan akan bernilai besar di sisi Allah. Jika hari ini ada yang menjauh karena kita memilih taat, yakinlah bahwa Allah sedang mendekatkan kita kepada yang lebih baik.

Teruslah hijrah, bukan karena manusia, tapi karena Allah. ๐ŸŒฟ
















 

Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Kultum subuh berkah di masjid Firdaus Madiun
  • Halah BI halal bihalal keluarga besar masjid Firdaus Madiun
  • Istiqomah dalam Kebaikan: Saat Allah Menyaring Lingkaran Hidupmu
  • Keluarga: Amanah Terindah dari Allah yang Harus Dijaga Sepenuh Hati”
  • Air Amanah pH 8 dan TDS 10 Sahabat Sehat untuk Ginjal dan lambung

Categories

  • Al-Qur'an
  • Artikel
  • General
  • Khutbah Jumat
  • Pengajian Ahad Pagi
  • Preaching
  • Tausiyah Subuh
  • Tolabul Ilmi

Ads



Copyright © Dari Masjid Ke Masjid Designed by OddThemes