Dari Masjid
Ke Masjid

  • Home
  • Artikel
    • Tausiyah Subuh
    • Pengajian Ahad Pagi
    • Tolabul Ilmi
    • Khutbah Jumat
  • Tentang
    • Kami
    • Contact

Tausiyah Subuh

Tausiyah Subuh

Pengajian Ahad Pagi

Pengajian Pagi

Tolabul Ilmi

Tolabul Ilmi

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat



 


"Dekat sama Allah itu gratis. Jauh dari Allah itu yang mahal: bayarnya pakai gelisah."

Kalimat ini mengandung makna yang mendalam. Mendekat kepada Allah tidak memerlukan biaya, kedudukan, atau kekayaan. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang ikhlas, taubat, zikir, doa, dan ketaatan kepada-Nya. Sebaliknya, ketika seseorang menjauh dari Allah, ia sering kehilangan ketenangan, meskipun memiliki harta, jabatan, dan kenikmatan dunia.

Allah SWT berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari banyaknya harta atau kemewahan, tetapi dari kedekatan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dengan yang tidak berzikir seperti orang yang hidup dan orang yang mati."
(HR. Bukhari)

Zikir, salat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa adalah jalan untuk mendekat kepada Allah. Semua itu dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang status atau kekayaan. Hasilnya adalah hati yang tenang, jiwa yang kuat, dan kehidupan yang penuh keberkahan.

Marilah kita memperbanyak amal saleh dan senantiasa menjaga hubungan dengan Allah. Sebab, semakin dekat kepada-Nya, semakin damai hati kita. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu mengingat-Nya dan memperoleh ketenangan di dunia serta kebahagiaan di akhirat.

"Ya Allah, dekatkanlah hati kami kepada-Mu, jadikan kami termasuk orang-orang yang selalu mengingat-Mu, dan anugerahkan kepada kami ketenangan serta keberkahan dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin."




















 

 





PROGRAM EKONOMI KREATIF MASJID FIRDAUS MADIUN

"Dari Jamaah, Oleh Jamaah, untuk Memakmurkan Masjid dan Mensejahterakan Umat"

Latar Belakang

Masjid selama ini banyak bergantung pada infak dan donasi jamaah untuk membiayai kegiatan dakwah, operasional, dan sosial. Agar masjid semakin mandiri, diperlukan sebuah usaha yang halal, amanah, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Program Ekonomi Kreatif, Masjid Firdaus Madiun diharapkan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan tanpa hanya mengandalkan donasi.

Bentuk Usaha

Program usaha yang dikelola oleh pengurus masjid antara lain:

  • Penjualan Air Mineral Amanah.
  • Depo LPG 3 kg (sesuai ketentuan yang berlaku).
  • Penjualan token listrik.
  • Penjualan pulsa telepon dan paket data.
  • Penyediaan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari jamaah.

Tujuan

  1. Mewujudkan kemandirian ekonomi Masjid Firdaus Madiun.
  2. Mengurangi ketergantungan terhadap donasi untuk operasional masjid.
  3. Memberikan kemudahan bagi jamaah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  4. Menggerakkan budaya belanja sambil bersedekah, karena setiap transaksi turut mendukung kegiatan masjid.
  5. Membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
  6. Memakmurkan masjid melalui kegiatan ekonomi yang halal, amanah, dan bermanfaat.

Pengelolaan Keuntungan

Keuntungan usaha dibagi secara transparan:

  • 40%/50 %masuk ke Kas Masjid untuk mendukung kegiatan ibadah, pendidikan, dan sosial.
  • 60%✓50% diberikan kepada pengelola usaha sebagai biaya operasional dan insentif pengelolaan.

Penutup

Program Ekonomi Kreatif Masjid Firdaus Madiun merupakan ikhtiar untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Dengan dukungan jamaah dan pengelolaan yang profesional, insya Allah masjid akan semakin makmur, masyarakat sekitar semakin sejahtera, dan keberkahan akan dirasakan bersama.

 




Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Amal yang tampak besar di hadapan manusia belum tentu bernilai di sisi Allah apabila dikerjakan untuk mencari pujian. Sebaliknya, amal yang sederhana namun dilakukan dengan hati yang ikhlas dapat menjadi sangat agung di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman:

"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."
(QS. Al-Bayyinah: 5).

Riya adalah melakukan ibadah agar dilihat, dipuji, atau dihormati manusia. Karena itu Allah memberikan peringatan keras:

"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya."
(QS. Al-Ma'un: 4–6).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya." (HR. Ahmad).

Ikhlas menjadikan hati tenang karena tujuan kita hanya mengharap ridha Allah. Sebaliknya, riya membuat hati selalu menunggu penilaian manusia. Orang yang ikhlas tidak sibuk menghitung pujian, tetapi sibuk memperbaiki niat.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat sombong dan riya, serta menerima setiap amal yang kita lakukan semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Āmīn.










 Alhamdulillah, Amanah Wakaf Telah Tiba

Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn. Dengan penuh rasa syukur, Masjid Firdaus Madiun telah menerima amanah berupa wakaf Al-Qur'an, sarung, dan mukena dari Hamba Allah Cakra Land.

Semoga wakaf ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."

(HR. Muslim)»

Allah SWT juga berfirman:

«"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki."

(QS. Al-Baqarah: 261)»

Semoga Allah SWT menerima wakaf ini sebagai amal saleh, melimpahkan keberkahan kepada Hamba Allah Cakra Land beserta keluarga, meluaskan rezekinya, menjaga kesehatan, mengampuni dosa-dosanya, serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.


Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga Allah SWT membalas dengan balasan yang lebih baik dan berlipat ganda. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

 



"Sahabat yang baik adalah sahabat yang berani menunjukkan kesalahan kita, bukan yang membiarkan kita terus berada dalam kekeliruan."

Islam mengajarkan bahwa nasihat adalah bagian dari agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Agama adalah nasihat."
(HR. Muslim)

Sahabat yang tulus akan menasihati dengan penuh kasih sayang, menjaga kehormatan saudaranya, dan menginginkan kebaikan baginya. Sebaliknya, pujian yang berlebihan dapat menumbuhkan kesombongan dan membuat seseorang lalai melihat kekurangannya. Karena itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan agar tidak berlebihan dalam memuji seseorang.

Allah SWT juga berfirman:

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Adz-Dzariyat: 55)

Selain itu, Allah memerintahkan agar kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran:

"Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran."
(QS. Al-'Ashr: 1–3)

Marilah kita menjadi sahabat yang ikhlas menerima nasihat dan juga berani menyampaikan kebenaran dengan adab yang baik. Sebab, sahabat sejati bukanlah yang selalu memuji, melainkan yang membantu kita semakin dekat kepada Allah SWT.

 


Pertanyaan ini sangat baik. Memang banyak kaum Muslim yang lahir dari keluarga Muslim sehingga tidak memiliki momen khusus mengucapkan syahadat seperti seorang mualaf. Namun, dalam Islam, syahadat bukan sekadar ucapan pertama kali, melainkan ikrar keimanan yang harus diyakini dan diamalkan sepanjang hidup.

Bagi orang yang lahir dari keluarga Muslim:

  • Ia dihukumi sebagai Muslim karena mengikuti agama kedua orang tuanya ketika masih kecil.
  • Ketika telah baligh dan berakal, ia wajib membenarkan dan meyakini syahadat dalam hatinya serta menjalankan konsekuensinya. Walaupun tidak ingat kapan pertama kali mengucapkannya, keislamannya tetap sah selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah..." (QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap Muslim dituntut untuk mengetahui, meyakini, dan mengamalkan kalimat Lā ilāha illallāh.

Karena itu, tidak mengapa jika kita tidak mengetahui kapan pertama kali mengucapkan syahadat. Yang lebih penting adalah memperbarui keimanan kita setiap hari. Bahkan Rasulullah ﷺ menganjurkan agar kita sering memperbarui iman dengan memperbanyak mengucapkan kalimat:

Lā ilāha illallāh.

Jadi, bagi yang lahir sebagai Muslim, bukan berarti tidak pernah bersyahadat. Mungkin kita telah diajarkan mengucapkannya sejak kecil oleh orang tua atau guru. Yang terpenting sekarang adalah memahami maknanya, meyakininya dengan sepenuh hati, mengucapkannya dengan lisan, dan membuktikannya dengan amal saleh.

Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Kebenaran Tak Boleh Diam, Teruslah Menyuarakannya
  • Mudahnya Meraih Pahala dalam Islam, Satu Huruf Pun Bernilai
  • Dunia Hanya Persinggahan, Akhirat Tujuan Kehidupan
  • At-Takatsur: Saat Nikmat Dipertanyakan, Di Mana Kepedulian Kita?
  • Yuk, Hidupkan Malam Sabtu dengan Khataman Al-Qur'an

Categories

  • Al-Qur'an
  • Artikel
  • cangkrukan
  • General
  • Khutbah Jumat
  • Pengajian Ahad Pagi
  • Preaching
  • Tausiyah Subuh
  • Tolabul Ilmi

Ads



Copyright © Dari Masjid Ke Masjid Designed by OddThemes