Ketika Al-Qur’an Menyentuh Hati yang Pernah Gelap
Ada kenakalan yang luar biasa, namun Allah selalu menyiapkan jalan pulang yang lebih luar biasa.
Seorang anak yang sejak kecil dikenal nakal, berandalan, terlibat geng motor dan tawuran akhirnya berubah total bukan karena ancaman, melainkan karena sentuhan lingkungan yang baik.
Perubahan itu dimulai di sekolah, saat ia diminta memegang Al-Qur’an dan membaca Surah Yasin.
Alih-alih merasa bangga, hatinya justru gelisah. Ia merasa dirinya kotor dan tidak pantas menyentuh ayat-ayat suci. Dari rasa tidak nyaman itulah, kesadaran tumbuh.
Ia pulang, mencuci sendiri pakaian-pakaiannya, berniat membersihkan diri dari najis dan kebiasaan buruk. Bukan karena disuruh, tapi karena hati yang mulai hidup.
Di sekolah, ada sosok guru perempuan yang diam-diam menjadi inspirasi. Ketika anak itu hendak bersalaman, sang guru menghindar dengan sopan. Bukan sombong ternyata beliau selalu menjaga wudhu.
Dari situ, si bocil belajar bahwa iman bukan sekadar ucapan, tapi adab yang dijaga.
Hari-hari pun berubah.
Ia mulai menjaga shalat berjamaah di masjid, puasa Senin-Kamis tak pernah tertinggal, dan selepas shalat Isya ia membantu orang tuanya berjualan.
Dari geng motor ke sajadah masjid.
Dari tawuran ke Al-Qur’an.
Inilah bukti bahwa siapa pun bisa berubah, ketika Allah menyentuh hatinya.
Allah nggak nunggu kita sempurna.
Allah nunggu kita mau berubah.
0 Comments