Mengajak Pelit atau Mengajak Dermawan: Pilihan Sikap di Ruang Publik

 


Pelit lahir dari rasa takut, dermawan tumbuh dari iman.

Di tengah kehidupan sosial yang makin kompetitif, masyarakat sering dihadapkan pada dua jenis ajakan: mengajak pelit atau mengajak dermawan. Keduanya tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan arah moral kehidupan bersama.

Mengajak pelit biasanya dibungkus dengan bahasa rasional dan hati-hati. Jangan mudah memberi, takut salah sasaran. Tahan dulu, kondisi belum aman. Pikirkan diri sendiri sebelum orang lain. Ajakan semacam ini terdengar masuk akal, bahkan dianggap bijaksana. Namun jika terus diulang, ia membentuk watak sosial yang kering empati. Masyarakat dilatih untuk menghitung sebelum merasa, curiga sebelum peduli.

Pelit dalam konteks ini bukan semata soal menahan harta, melainkan cara pandang yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kemanusiaan. Akibatnya, solidaritas melemah. Orang miskin dipertanyakan, yang membutuhkan dicurigai, dan kepedulian dianggap beban. Perlahan, ruang sosial menjadi dingin dan individualistis.

Sebaliknya, mengajak dermawan lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Ajakan ini tidak menolak logika, tetapi menjadikan empati sebagai dasar. Dermawan bukan berarti boros, melainkan memahami bahwa dalam setiap rezeki terdapat hak orang lain. Dari sinilah tumbuh kepercayaan, rasa aman, dan kebersamaan.

Al-Qur’an dengan tegas menempatkan nilai berbagi sebagai kekuatan sosial:

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menegaskan bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan proses menumbuhkan. Prinsip yang sama ditegaskan Rasulullah SAW:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

Pesan ini bukan sekadar spiritual, tetapi juga sosial. Masyarakat yang gemar berbagi lebih kuat menghadapi krisis dibanding masyarakat yang sibuk menimbun. Ketimpangan tidak akan selesai hanya dengan kebijakan ekonomi, tetapi membutuhkan budaya dermawan yang hidup di tengah warga.

Masalahnya, di ruang publik hari ini, ajakan dermawan sering kalah oleh narasi ketakutan: takut miskin, takut ditipu, takut dimanfaatkan. Ketakutan ini membuat ajakan pelit tampak lebih realistis. Padahal masyarakat yang hidup dalam ketakutan adalah masyarakat yang rapuh dan mudah terpecah.

Pada akhirnya, mengajak pelit atau mengajak dermawan adalah pilihan nilai. Apakah kita ingin membangun masyarakat yang saling mencurigai, atau masyarakat yang saling menguatkan? Kata-kata yang kita sebarkan di ruang publik akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan akan menentukan masa depan.

Bangsa yang besar bukan hanya yang kaya sumber daya, tetapi yang warganya berlapang hati untuk berbagi.


0 Comments